Sesekali..teringat waktu itu.


 

 

Mentari lewat petang..

Bergugur titis keringatku..

Memerhati di penjuru jalan ..

Menunggu kelibat setengah abad..

 

Nah.. dia sudah tiba

Girang berputik didada

Dari jauh aku melihatnya…

Hari ini tetiba ..sayu

 

Berkeledar usang.. sepasang dengan  mosikal tua yang ditungganginya

Wajahnya mesra , melihat jasad kecilku berdiri di situ

Bermini form , bertocang dua namun tak sekemas tadi pagi

Waktu mama sibuk menyiapkan ku

 

Segera berhenti dihadapanku

pantas memaut lengannya yang masih kekar itu,

Lalu melompat , membonceng,memeluk tubuhnya yang enak dengan keringat

Keringat yang masih ku ingat ..

 

‘Kakak pegang kuat-kuat, nanti jatuh’

Lalu menepuk lutut kecil di belakangnya

 

Deruman enjin, asap hitam dan tamparan angin habis disedut kami…

 

Dari belakang aku termenung , memerhati motokar besar di kiri kanan

Kembali mengeratkan pelukan …

 

Hari ini belajar ape?

Belajar lukis dan darab..suara ku yan tengelam timbul entahkan dengar atau tidak

Dia mengangguk ..tanda mengerti ..mungkin

 

“Susah tak?”.

“Darab susah.. akak suka lukis”

 

“Ohh…mesti kene rajin baru pandai.Orang malas takkan pandai, sampai bilepun takkan berjaya tau”. Belajar lebih kuat ye”.

 

“Yelah ,bah”jawab  bibir kecil yang baru masuk lapan tahun

 

Kenapa bergenang pula air dibibir mata…

segera dakapan kueratkan

 

Lalu memyembam wajah ke tubuhnya

Didalam hatiku …aku akan ingati saat ini , kata-kata insan  pujaan dan tumpahnya cintaku..

 

“akak tido ke ?

 

“tak lah”

 

Jangan tido, nanti jatuh.? Bimbang  betul kalau aku terlena

 

Gugur titik jernih , meghilangkan lamunan…

 

“Ah sudah sampai…”

Bangunan  putih gagah berdiri dihadapan , segera teksi kuminta berhenti.

 

Bingkas berlari anak , semakin laju usai gerbang pintu ku lewati..

 

Bebola mata liar mencari-cari Melur 3..

 

“Ah …sudah jumpa..”

 

Mataku liar lagi langkah deras mencari-cari ‘dia’

Sejak setahun  lalu tak ku tatapi wajahnya..

 

Waktu itu Abah masih gagah turun naik tangga

Sibuk mengangkat semua barang peribadi ku

Saat cuti semester bermula…

 

Langkah terhenti , seraya melihatkan wajah wanita separuh abad

Masih cantik seperti dulu melambai kearahku.

 

Disisi katil…tubuh tua terbujur lesu..

Hatiku sakit sekali…tak pernah dia selemah ini..

Lupakah aku pada masa dan waktu yang memamah dirinya…

 

Tangan gagah , beurat kudrat itu ku angkat

Ku cium tak henti…

 

“Oh… sape yang datang”

 

Ku lihat mata kabur itu bergerak , perlahan

semakin besar bukaanya mencari wajah tetamu yang menggangu lena

 

tak tertahan lagi

tak termampu  butir kata keluar dari mulutku ini…

 

wajah tua bergaris seribu itu ku kucup dari dahi hingga ke pipi

habis basah disirami air bah dari tadi tak henti

mama turut menyambung hujan itu

seperti melihat drama Melayu sedih di tv.

 

lalu berbisik aku…”akak takkan tinggalkan Abah lagi”

lalu Lelaki yang kucintai itu tersenyum , sambil gagah menahan sebak..

 

Aku bukanlah satu-satunya anak Abah…

Bukannya yang paling disayangi Abah…

 

Kakak dan adik-adikku yang lebih setengah dozen bilangannya

Juga punyai rahsia, cerita dan kenangan

Bersama insan tua yang kami gelar ‘Abah’

 

                                                        Hati Seorang AKU-Ogos 2007

 

 

 

                        

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: